Bupati Husniah Turun Tangan Buka Akses Baru TPA Cadika, Krisis Sampah Gowa Mulai Temui Jalan Keluar
GOWA, ZateraNews.com — Krisis sampah yang dalam beberapa hari terakhir memicu penumpukan sampah di sejumlah wilayah Kabupaten Gowa mulai menemukan jalan keluar. Bupati Gowa, Hj. Sitti Husniah Talenrang, turun langsung meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cadika di Kecamatan Bajeng, Minggu (20/9/2026), untuk memastikan solusi atas terhambatnya akses armada pengangkut sampah.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati Husniah memastikan Pemerintah Kabupaten Gowa telah menyiapkan jalur alternatif agar operasional pengangkutan sampah ke TPA Cadika dapat kembali berjalan normal.
“Sudah ada solusi dari penutupan akses ke TPA Bajeng. Kita siapkan jalan baru untuk akses armada sampah ke TPA Bajeng,” ujar Husniah di lokasi.
Menurutnya, akses baru tersebut bersifat sementara dan akan melewati kawasan Bumi Perkemahan HM Yasin Limpo. Langkah ini diambil untuk mempercepat pemulihan layanan persampahan yang sempat terganggu akibat penutupan jalur utama menuju TPA.
“Dari peninjauan ini, saya pastikan armada sampah kembali beroperasi ke TPA Bajeng,” tegasnya.
Peninjauan itu turut dihadiri Plh Kasatpol PP Gowa Agussalim, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Aryanto Abbas, serta sejumlah pejabat lainnya. Di lokasi juga telah disiagakan alat berat untuk membuka dan mempercepat pengerjaan akses jalan baru.
Sampah Menumpuk di Sejumlah Wilayah
Penutupan akses menuju TPA Cadika sebelumnya berdampak langsung terhadap layanan pengangkutan sampah. Akibatnya, sampah menumpuk di sejumlah titik, terutama di Kecamatan Somba Opu dan Pallangga.
Kondisi tersebut memicu keluhan masyarakat karena tumpukan sampah mulai mengganggu kebersihan lingkungan dan aktivitas warga.
Namun dampak penutupan TPA tidak hanya dirasakan masyarakat perkotaan. Warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas pemilahan sampah di TPA Cadika juga ikut terdampak.
Pemulung Kehilangan Mata Pencaharian
Salah seorang warga, Daeng Ngona, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga sejak tidak ada lagi sampah yang masuk ke TPA Cadika.
“Selama ini kami hidup di TPA Cadika ini. Namun semenjak TPA Cadika ditutup, kami mengalami kesulitan karena tidak ada sampah yang masuk,” ujarnya.
Menurut Daeng Ngona, sampah yang masuk ke TPA biasanya dipilah dan dijual kembali kepada pengepul dengan harga sekitar Rp1.000 per kilogram. Hasil penjualan tersebut menjadi sumber utama pendapatan untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“Kami jual dengan harga Rp1.000 per kilo. Biasanya sampai 20 karung baru ada penimbang yang datang ambil. Hasilnya kami gunakan beli beras dan ikan. Sudah lima hari kami tidak bisa beli apa-apa karena tidak ada sampah yang masuk,” tuturnya.
Kinerja DLH Disorot
Di tengah polemik tersebut, sejumlah pihak mulai menyoroti penanganan sektor persampahan di Kabupaten Gowa.
Direktur Eksekutif Forum Peduli Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan (FP2D), Muhammad Naufal, menilai persoalan ini menjadi tanggung jawab teknis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gowa.
Menurutnya, kepala dinas seharusnya mampu mengantisipasi dan melaporkan setiap potensi persoalan kepada pimpinan daerah sehingga tidak berkembang menjadi krisis layanan publik.
“Masalah sampah ini menjadi penanda bahwa kinerja DLH perlu dievaluasi. Seorang kepala dinas wajib menyampaikan kondisi lapangan secara utuh kepada bupati,” kata Naufal.
Pandangan serupa disampaikan aktivis senior Sugianto Pattanegara. Ia menegaskan bahwa pejabat teknis memiliki tanggung jawab penuh dalam memastikan pelayanan publik tetap berjalan.
“Posisi seorang kadis adalah penanggung jawab teknis. Jika terjadi kegagalan dalam pelaksanaan tugas, tentu harus ada evaluasi menyeluruh agar tidak menjadi beban bagi pemerintah daerah,” ujarnya.
Dengan dibukanya akses baru menuju TPA Cadika, masyarakat kini berharap persoalan penumpukan sampah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dapat segera teratasi dan pelayanan persampahan kembali normal.
Related Articles